• MTSN 5 MADIUN
  • Genius and Religius

PONDOK RAMADHAN ONLINE 19 APRIL 2021 BAB THAHARAH

LAPORAN PONDOK RAMADHAN MATERI
TENTANG THAHARAH
MTsN 5 MADIUN


Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Madiun
Tahun Pelajaran 2020/2021

Oleh
Sri Hartati Orbaningrum,S.Pd.I
NIP: 196705142007012032


ASSALAMUALAIKUM WAARAHMATULLAHI
WABARAKAATUH
Alhamdulilahi rabbil „alamin,
Was sholatu wassalamu „ala,
Asyrofil ambiyaa iwal mursalin,
Sayyidina wa maulana Muhammadin,
Wa „alaa „alihi wa shohbihi ajmain.
Ama ba‟du. Robbisrohli sodri, wayassrili amri, wahlul uqdatammilisani
yafqohu qouli, amma ba'du
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmad,
taufik, hidayah, inayah serta karunianya sehingga kita bisa mengadakan
Pondok Ramadhan di tahun ini. Salawat serta salam kita sanjungkan
kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu kita nantikan hingga yaumil
khiyamah amin amin ya robbal alamin. Disini saya akan menerangkan
tentang Thaharah atau Bersuci.

 

 

 

 

 

 

 

 


Pengertian Thaharah
Ajak Anak Berdoa Setelah Berwudhu, Yuk Ketahui Keutamaannya
1. Arti Thaharah
Thaharah artinya bersuci menurut bahasa. Dalam istilah, thaharah artinya suci dari hadats dan najis, yakni
keadaan suci setelah berwudhu, tayammum, atau mandi wajib
2. Hukum Thaharah
Dalil thaharah tertulis dalam Quran surat Al Baqarah ayat 222. Allah SWT berfirman menyukai orangorang
yang
bertaubat
dan
bersuci

Arab:


Latin: Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn
Artinya: Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.
Selain itu, dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW, " Allah tidak menerima sholat yang tidak
disertai dengan bersuci."
3. Macam-macam Thaharah
Pembagian thaharah ada dua, yakni bersuci dari hadats berupa melakukan wudhu, mandi, dan tayamum.
Kemudian, bersuci dari najis berupa menghilangkan najis yang ada di badan, tempat dan pakaian.
4. Alat-alat Thaharah
Untuk melakukan thaharah, ada beberapa media yang bisa digunakan, yakni air, debu yang suci, dan batu
untuk diinjak. Air sendiri, dari segi hukum dibagi menjadi lima, yaitu
-Air suci dan dapat mensucikan, seperti air sumur, air sungai, air hujan, dll
-Air yang dapat mensucikan tapi makruh hukumnya, seperti air yang dijemur di tempar logam bukan
emas
-Air yang tidak dapat mensucikan, seperti air yang kurang dari dua kulah, air yang sifatnya berbah (air
teh, air kopi, air berbau), dan air yang diperoleh dari mencuri.


Benda najis
Ada 7 benda najis yang memang tidak memperbolehkan umat muslim melakukan
ibadah diantaranya:
1. Bangkai Binatang Darat
2. Darah
3. Nanah
4. Segala Cairan yang keluar dari dua pintu
5. Arak
6. Anjing dan Babi
7. Bagian Badan Binatang yang diambil dari Tubuhnya Selagi Hidup

 

 

 

 

 

 


CARA MENYUCIKAN NAJIS
Dalam literatur fikih dijelaskan cara untuk menyucikan najis mughalladhah ini yang lebih berat
dari pada dua jenis najis lainnya. Caranya adalah dengan membasuh benda yang terkena najis itu
dengan tujuh kali basuhan di mana pada salah satu basuhannya dicampur dengan debu yang suci.
Akan tetapi, sebelum membasuh benda yang terkena najis, maka harus dibersihkan terlebih
dahulu sifat-sifat ainiyah najis seperti zatnya, baunya, rasanya, dan warnanya.
Meski sudah dibersihkan ainiyahnya, tetapi benda yang terkena najis itu masih belum dikatakan
suci secara hukmiyah karena belum dibasuh dengan tujuh basuhan dan salah satunya dicampur
dengan debu.
Setidaknya ada tiga cara yang bisa dilakukan untuk mencampur debu dengan air yang
digunakan saat menyucikan najis itu.
1. Mencampur debu dan air secara bersamaan dan setelah itu diletakkan di benda yang terkena
najis anjing atau babi tersebut. Menurut pendapat para ulama, cara ini dianggap sebagai cara
yang lebi utama daripada cara lainnya.
2. Meletakkan debu pada benda yang terkena najis kemudian memberinya air dan
mencampurkan keduanya. Setalah itu barulah dibasuh dengan air.
3. Membasuhkan air terlebih dahulu pada benda yang terkena najis kemudian memberinya debu
dan mencampur kedua zat tersebut. Setelah itu baru kemudian dibasuh kembali dengan air.
Adapun perintah menyucikan diri dari segala jenis najis ini salah satunya terdapat dalam surah
Al-Baqarah ayat 125.


Wa iz ja'alnal-baita masaabatal lin-naasi wa amnaa, wattakhizuu mim maqaami ibraahiima
musallaa, wa 'ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa'iila an tahhiraa baitiya lit-taa'ifiina wal'aakifiina
war-rukka'is-sujuud

Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi
manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan
telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah (sucikanlah) rumah-Ku untuk
orang-orang yang tawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud."
Begitulah cara untuk menyucikan najis mughalladhah (berat) agar kita senantiasa dalam keadaan
suci dan ibadah-ibadah yang kita kerjakan diterima Allah Swt. Wallahu a'lam.


Mandi
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata
kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari
tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.
Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS : Al-Maidah : 6)
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa islam sangat mewajibkan umatnya untuk menjaga kebersihan dan
kesucian diri. Fungsi Al-Quran bagi umat manusia, salah satunya adalah memberikan informasi terkait
kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah menjaga kebersihan dan kesucian. Menjaga kebersihan dan
kesucian adalah sebagian dari iman. Dalam ajaran islam, setiap muslim harus mampu menjaga kebersihan
dan kesuciannya, terutama ketika akan melaksanakan ibadah (habluminallah).
Pengertian mandi wajib
Cara untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri adalah dengan mandi dan berwudhu. Namun, dalam
islam dikenal dengan istilah mandi wajib. Mandi wajib ini adalah sebuah aturan dari Allah untuk umat
muslim dalam kondisi tertentu dan syarat tertentu. Bagaimana sebetulnya mandi wajib dan cara untuk
melaksanakannya, akan dibahas dalam artikel di bawah ini.
Dalam bahasa arab, mandi berasal dari kata Al-Ghuslu, yang artinya mengalirkan air pada sesuatu.
Menurut istilah, Al-Ghuslu adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus
bertujuan untuk menghilangkan hadast besar. Mandi wajib dalam islam ditujukan untuk membersihkan
diri sekaligus mensucikan diri dari segala najis atau kotoran yang menempel pada tubuh manusia. Untuk
itu, mandi wajib diharuskan sebagaimana dalam Ayat diatas.
Kondisi yang Mensyarakatkan Mandi Wajib dalam Islam
Dalam Islam, ada kondisi-kondisi dimana seorang muslim atau muslimah diwajibkan untuk melaksanakan
mandi (mandi wajib). Hal-hal tersebut membuat seseorang terhalang untuk shalat, masuk ke dalam
masjid, dan juga melaksanakan ibadah lainnya karena dalam kondisi yang tidak suci.
Keluarnya Air Mani (Setelah Junub)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga
kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan
junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (QS : An-Nisa : 43)
Dalam QS:An-Nisa:43 ditunjukkan bahwa setelah berjunub (berhubungan suami istri), yang dimana
antara laki-laki atau perempuan akan mengeluarkan cairan dari kemaluannya, maka wajiblah ia untuk
melaksanakan mandi wajib setelahnya. Sedangkan jika tidak, ia tidak bisa shalat dan menghampiri
masjid, dan jika dilalaikan tentu akan berdosa, karena meninggalkan yang wajib.
Selain itu, sebagaimana Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, mengatakan bahwa
“Diriwayatkan dari Abu Sa‟id berkata,”Rasulullah saw bersabda,‟Mandi diwajibkan dikarenakan keluar
air mani” (HR. Muslim)
“Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Ummu Sulaim berkata,‟Wahai Rasulullah sesungguhnya
Allah tidak malu tentang masalah kebenaran, apakah wanita wajib mandi apabila dia bermimpi? Nabi saw
menjawab,‟Ya, jika dia melihat air.” (HR. Bukhori Muslim dan lainnya)
Sayyid Sabiq, seorang ulama fiqh mengatakan tentang persoalan keluarnya air mani dan mandi wajib, halhal
tersebut
adalah
berikut
:

 Jika mani keluar tanpa syahwat, tetapi karena sakit atau cuaca dingin, maka ia tidak wajib mandi.
 Jika seseorang bermimpi namun tidak mendapatkan air mani maka tidak wajib baginya mandi,
demikian dikatakan Ibnul Mundzir.
 Jika seseorang dalam keadaan sadar (tidak tidur) dan mendapatkan mani namun ia tidak ingat
akan mimpinya, jika dia menyakini bahwa itu adalah mani maka wajib baginya mandi
dikarenakan secara zhohir bahwa air mani itu telah keluar walaupun ia lupa mimpinya. Akan
tetapi jika ia ragu-ragu dan tidak mengetahui apakah air itu mani atau bukan, maka ia juga wajib
mandi demi kehati-hatian.
 Jika seseorang merasakan akan keluar mani saat memuncaknya syahwat namun dia tahan
kemaluannya sehingga air mani itu tidak keluar maka tidak wajib baginya mandi.
 Jika seseorang melihat mani pada kainnya namun tidak mengetahui waktu keluarnya dan
kebetulan sudah melaksanakan shalat maka ia wajib mengulang shalatnya dari waktu tidurnya
terakhir

Bertemunya/bersentuhannya alat kelamin laki-laki dan wanita, walaupun tidak keluar mani
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seseorang duduk diantara
anggota tubuh perempuan yang empat, maksudnya; diantara dua tangan dan dua kakinya kemudian
menyetubuhinya maka wajib baginya mandi, baik mani itu keluar atau tidak.” (HR. Muslim dan
Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Apabila dua kemaluan telah bertemu
maka wajib baginya mandi. Aku dan Rasulullah saw pernah melakukannya maka kami pun mandi.” (HR.
Ibnu Majah)
Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa bila suami-istri yang telah berhubungan badan, walaupun tidak
keluar mani, sedangkan telah bertemunya kemaluan dia antara keduanya, maka wajib keduanya mandi
wajib, untuk mensucikan diri.
Haid dan Nifas
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu
hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka,
sebelum mereka suci. apabila mereka telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri” (QS : Al-Baqarah : 222)
Darah yang dikeluarkan dari proses Haidh dan Nifas statusnya adalah suatu kotoran, najis, dan membuat
tidak suci diri wanita. Untuk itu wanita yang telah melewati haidh dan nifas, maka wajib baginya untuk
bersuci dengan mandi wajib, agar bisa kembali beribadah. Hal ini disebabkan ada larangan saat haidh dan
nifas untuk melangsungkan shalat dan puasa, sebelum benar-benar suci dari hadast. Sedangkan
menundanya, merupakan kedosaan karena meninggal hal wajib, yang dalam kondisi telah melewati haidh
atau nifas.
Melakukan mandi atau Keramas saat haidh tentunya tidak menjadikan diri muslimah suci, sebelum benarbenar
berhentinya
darah
haidh
dan
nifas.
Hal
ini
pun
sebagaimana
dalam
Hadist
Rasulullah,
wanita
dalam

kondisi
haidh
dilarang
shalat
dan
wajib
untuk
mandi
setelahnya.

Sabda Rasulullah saw kepada Fatimah binti Abu Hubaisy ra adalah,”Tinggalkan shalat selama hari-hari
engkau mendapatkan haid, lalu mandilah dan shalatlah.” (Muttafaq Alaih)
Sebetulnya bagi wanita, ada kondisi dimana melahirkan diwajibkan juga untuk mandi wajib. Namun, hal
ini terjadi perbedaan pendapat antar ulama fiqh. Secara umum mewajibkan, sedangkan yang lainnya ada
yang tidak mewajibkan. Muslimah bisa mengambil mana yang sesuai dengan keyakinan hati dan
pertanggungjawaban masing-masing ulama.
Karena kematian
“Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah saw bersabda dalam keadaan berihram terhadap seorang
yang meninggal terpelanting oleh ontanya,”Mandikan dia dengan air dan daun bidara.” (HR.Bukhori
Muslim)
Orang yang mengalami kematian, ia wajib untuk dimandikan. Untuk itu mandi wajib ini berlaku pula bagi
yang meninggal, walaupun ia bukan mandi oleh dirinya sendiri, melainkan dimandikan oleh orang-ornag
yang lain. Untuk pelaksanaannya, maka setelah dimandikan ada pelaksanaan shalat jenazah dalam islam,
sebagai shalat terakhir dari mayit.
Rukun dan Cara Pelaksanaan Mandi Wajib
Cara mandi dalam islam disampaikan teknisnya oleh Rasulullah SAW, untuk menunjukkan cara
mensucikan diri yang benar. Untuk melaksanakan mandi wajib, berikut cara-caranya yang diambil dari
HR Muslim dan Bukhari, mengenai bab tata cara pelaksanaan mandi wajib.
Niat untuk mengangkat hadas besar
Segala sesuatu berasal dari niatnya. Untuk itu, termasuk pada pelaksanaan mandi wajib pun juga harus
diawali dari niat. Untuk pelafadzan niat adalah “Aku berniat mengangkat hadas besar kerana Allah
Taala”. Setelah itu bisa kita mengucapkan bismillah, sebagai permulaan untuk mensucikan diri. Hal ini
dikarenakan ada banyak fadhilah bismillah jika dibacakan seorang muslim dalam aktivitasnya.
 Membasuh seluruh anggota badan yang zahir.
“Ummu Salama RA, aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara-cara mandi, beliau bersabda,
“Memadailah engkau jiruskan tiga raup air ke kepala. Kemudiian ratakannya ke seluruh badan. Dengan
cara itu, sucilah engkau” (HR Muslim)
Membasuh semua anggota badan termasuk kulit atau rambut dengan air serta meratakan air pada rambut
hingga ke pangkalnya. Selain itu wajib juga membasuh dengan air ke seluruh badan termasuk rambutrambut,
bulu
yang
ada
pada
seluruh
anggota
badan,
telinga,
kemaluan
bagian
belakang
ataupun
depan.


 Rambut dalam kondisi terurai/tidak terikat
Untuk mandi besar, maka rambut harus dalam kondisi terurai atau tidak terikat. Hal ini untuk benar-benar
mensucikan seluruh tubuh, sedangkan jika terikat maka tidak sempurna mandinya. Dikhawtirkan tidak
semua bagian dibasuh atau terkenai air. Selain itu, bisa juga selepas dalam kondisi junub atau haidh bagi
wanita mencukur bulu kemaluan. Mencukur bulu kemaluan dalam islam adalah suatu yang juga sangat
dianjurkan dan mencukur bulu kemaluan pria dalam islam pun sangat dianjurkan. Hal ini bisa menambah
kebersihan, dan tidak banyak kotoran yang bersisa yang masih melekat dalam bulu di badan.
Namun, perlu diperhatikan walaupun mencukup bulu-bulu atau rambut dianjurkan dalam islam, namun
berbeda dengan mencukur alis. Untuk itu, ada hukum mencukur alis dalam islam yang perlu diperhatikan,
terutama bagi kaum wanita.
 Memberikan wewangian bagi wanita yang setelah haid
“Ambillah sedikit kasturi kemudin bersihkan dengannya”
Hal ini sifatnya tidak wajib, melainkan sunah saja. Untuk wanita, maka bisa memberikan semacam
wewangian ataupun sari-sari bunga yang bisa membersihkan dan membuat wangi kemaluannya, dimana
telah terkena darah haid selama periodenya. Untuk itu di zaman Rasulullah diberikan bunga kasturi,
sedangkan di zaman sekarang ada banyak sari-sari bunga atau hal lainnya yang bisa lebih membersihkan,
mensucikan, dan membuat wangi.
Cara Mandi Wajib yang Baik Menurut Rasulullah
Hal-hal berikut adalah cara mandi yang baik menurut Rasulullah dalam hadist yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim. Muslim yang melaksanakannya maka akan sesuai sebagaimana Rasulullah
melakukannnya. Tahapannya adalah sebagai berikut :
Terlebih dahulu mencucui tangan sebanyak tiga kali, sebelum tangan tersebut digunakan mandi, atau
dimasukkan ke dalam tempat pengambilang atau penampungan air
Untuk membersihkan kemaluan dan kotoran, maka hendaklah untuk menggunakan tangan kiri, bukan
tangan kanan. Tangan kanan digunakan untuk makan, sedangkan tidak mungkin menggunakannya untuk
membersihkan kemaluan.
Setelah membersihkan kemaluan, maka cucilah tangan dengan menggosokkannya pada tanah, bisa juga
dengan sabun agar hilang kotoran tersebut dari tangan.
Berwudhu dengan cara berwudhu yang benar sesuai aturan/rukunnya dalam islam, selagi akan melakukan
shalat.
Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali
Mencuci kepala (keramas) mulai dari kepala bagian kanan ke bagian kiri dan membersihkannya hingga
sela-sela rambut, agar benar-benar bersih dan sempurna
Mengguyur air mulai dari sisi badan sebelah kanan lalu pada sisi sebelah kiri

 

Hal yang makruh saat melaksanakan mandi wajib
1. Menggunakan air secara berlebihan
“Nabi SAW mandi dengan segayung hingga lima gayung air dan berwudhu dengan secupak air” (HR
Bukhari dan Muslim)
“Cukuplah engkau mandi dengan segantang air. Lalu seorang lelalki berkata, ini tidak mencukupi bagiku.
Jabir menjawab, Ia telah pun mencukupi bagi orang yang lebih baik dan rambutnya lebih lebat daripada
engkau (yakni Rasulullah SAW)” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist di atas dijelaskan oleh Rasulullah bahwa untuk melaksanakan mandi, maka tidak perlu
berlebihan menggunakan air. Air yang digunakan adalah secukupnya dan tidak menghamburhamburkannya.
Hal
ini
mengingat
bahwa
dalam
ajaran
islam
tidak
mengajarkan
sikap
berlebih-lebihan

termasuk
dalam
menggunakan
sesuatu.

2. Mandi dari air yang tenang
“Janganlah seseorang daripada kamu yang junub mandi di dalam air yang tenang. Orang ramai bertanya.
Wahai abu hurairah bagaimanakah sepatutnya dia lakukan? Abu hurairah menjawab, ambil air. (Dengan
tangan atau bekas kecil beserta niat mencedok sekiranya air itu sedikit, supaya tidak menjadi musta‟mal
disebabkan bersentuh dengan tangan, atau ambil sedikit air dari bekas sebelum berniat mengangkat
janabah. Kemudia berniat, memasuh tangan, dan ambilah air seterusnya dengan tangannya itu”
Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa hendaknya muslim yang akan melaksanakan mandi wajib,
menggunakan air yang mengalir.

Syarat-syarat dan Rukun Wudhu

Wudhu adalah salah satu hal yang menjadi syarat seseorang melakukan salat. Jika wudhu seseorang
sempurna dan sesuai tuntunan syariat maka salatnya pun akan sah. Sebaliknya, jika wudunya tidak sesuai
syarat dan rukun yang sudah ditentukan maka salatnya tidak sah.
Adapun syarat-syarat wudhu adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan air suci

Artinya: “Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Tirmidzi).
2. Air yang digunakan adalah air halal dan bukan air curian

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil…” (QS. An Nisa : 29)
3. Membersihkan benda-benda yang dapat menghalangi air menyentuh kulit, seperti cat kuku, dan lainnya


، : ،
Artinya: “Ada seseorang yang berwudhu dan meninggalkan satu tempat di kakinya (tidak dibasuh),
kemudian Nabi sallallahu‟aalihi wa salam melihatnya, maka beliau bersabda, “Kembali dan perbaiki
wudhu anda, maka dia kembali kemudian dia shalat.” (HR. Muslim).
Sedangkan Rukun-rukun Wudhu adalah sebagai berikut:
1. Niat dalam hati
Niat cukup dilakukan di dalam hati. Tidak harus diucapkan. Jika seseorang membasuh anggota wudhu
dengan niat untuk mengurangi rasa panas atau untuk membersihkannya maka tidak dianggap sebagai
orang yang berwudhu.





Artinya: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang
diniatkan…“ (HR. Muttafaqun Alaihi).
2. Membasuh wajah (termasuk berkumur-kumur dan istinsyaq)
« »
Artinya: “Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu „alaihi was sallam) jika beliau akan berwudhu, beliau
mengambil segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke wajahnya) sampai ketenggorokannya
kemudian beliau menyela-nyela jenggotnya”. Kemudian beliau mengatakan, “Demikianlah cara
berwudhu yang diperintahkan Robbku kepadaku.” (HR. Abu Dawud).
3. Mencuci kedua tangan sampai siku
« ، »
Artinya: “…Kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian
membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali…”(HR. Muttafaqun Alaihi).
4. Mengusap kepala (termasuk kedua telinga)
« ، ، ، ، »
Artinya: “Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya,(dengan cara) menyapunya ke
depan dan ke belakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke
tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya.”(HR. Muttafaqun Alaihi).
5. Mencuci kedua kaki sampai mata kaki
« »
“…Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki…”(HR. Muttafaqun Alaihi).
6. Berurutan/terti

“…maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh)
kakimu sampai dengan kedua mata kaki,”(QS. Al-Maidah: 6).
Itulah syarat-syarat wudhu dan rukun-rukun wudhu yang harus dipahami semua orang Islam sebelum
melakukan wudhu dan melangsungkan salat.
Pengertian Tayamum
Baca Cepat tampilkan
Tayamum menurut ahli bahasa adalah menyengaja, sedangkan menurut arti syara‟ adalah mengusapkan
debu yang suci pada wajah dan kedua tangan sebagai ganti dari wudhu, mandi atau basuhan anggota
wajib dengan syarat-syarat tertentu.
Menurut istilah tayamum adalah mengusapkan tanah ke muka dan kedua tangan sampai siku dengan
beberapa syarat.
Dasar pencentusan hukum tayamum adalah firman Allah SWT dalam surat al Maidah 6:







. (ة ٦)
Artinya: Dan apabila kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari buang air atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air. Maka bertayamumlah dengan debu yang baik (bersih),
usaplah mukamu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-
Rukun-Rukun Tayamum
1. Niat. Adapun niatnya sebagai berikut:
ة لله .
atau
لله
2. Memindah debu.
3. Mengusap wajah.
4. Mengusap kedua tangan hingga kedua siku.
5. Tartib.
Sebab-Sebabnya Tayammum
Sebab-sebab bolehnya mengerjakan tayammum yaitu :
 Tidak ada atau tidak menemukan air seperti dipadang pasir.
 Takut menggunakan air kerena sakit yang apabila tubuhnya terkena air tentu sakitnya bertambah
sangat.
 Ada air, tetapi perlu dipakai sendiri untuk minum atau ada binatang yang haus yang sangat
memerlukan air itu sedangkan air tersebut hanya cukup untuk diminum olehnya.
Syarat-Syaratnya Tayammum
Syarat-syarat tayammum ialah :
1. Sudah mencari air sebelum mengerjakan tayammum.
2. Menggunakan debu yang suci, kering dan berhambur ( tidak membeku ).
3. Mengerjakan tayammum setelah masuknya waktu shalat.
4. Tayammum sekali untuk sekali sembahyangan, apabila shalat fardlu. Adapun untuk shalat sunnah
maka sekali bertayammum boleh digunakan sekehendaknya. Jadi sekalipun belum berhadats,
jikalau tayammum itu sudah dipakai untuk sekali shalat fardlu maka apabila hendak mengerjakan
shalat fardlu yang lain lagi, wajiblah mengulangi tayammumnya
5. Debu yang dipakai janganlah debu yang sudah dipakai untuk tayammum. Jadi debu yang sudah
terpakai jangan dipakai lagi, tetapi carilah debu yang baru. Debu yang sudah dipakai di anggap
musta‟mal.
6. Debunya jangan tercampur dengan benda suci lain seperti tepung dan sebagainya,
7. Menghilangkan najis sebelum tayammum.
8. Mencari kiblat sebelum tayammum.


Fardlu-Fardlunya Tayammum
Fardlu-fardlu tayammum itu ada empat yaitu :
Niat bertayammum supaya boleh mengerjakan shalat niatnya didalam hati sedang mengucapkan dilisan
itu sunnah hokum-hukumnya, Lafazh niat bertayammum ialah :
Saya niat bertayammum supaya boleh mengerjakan shalat fardlu karena Allah Ta‟ala.
Mengusapkan debu pada muka dan kedua tangan sampai kedua siku dengan dua kali tepukan. Jadi
tepukan pertama lalu diusapkan ke muka kemudian tepukan kedua diusapkan kedua tangan secara
berganti-ganti yakni tangan kanan mengusap yang kiri dan tangan kiri mengusap yang kanan.
Memindahkan debu kepada anggauta yang diusap.
Tertib atau berturut-turut yakni mendahulukan anggauta yang dahulu dan membelakangkan yang
belakang menurut ketentuan dalam fardlu-fardlunya tayammum.
Sunnah-Sunnahnya Tayammum
Sunnah-sunnahnya tayammum itu ialah :
1. Membaca “ bismillaahir rahmaanir rahiim ”
2. Mendahulukan mengusap anggauta yang kanan dan membelakangkan yang kiri.
3. Menipiskan debu yang melekat ditapak tangan, sebelum diusapkan ke muka dan kedua tangan.
Batal-batalnya tayammum itu ialah :
Semua perkara yang membatalkan wudlu juga membatalkan tayammum.
Melihat atau menemukan air sebelum memulai mengerjakan shalat jikalau bertayammum itu memang
karena tidak menemukan air. Adapun kalau bertayammumnya itu sebab sakit, maka wajiblah berwudlu
sekiranya sudah tidak berbahaya lagi kalau menggunakan air. Jadi apabila melihat atau menemukana air
itu sesudah memulai mengerjakan shalat yakni sudah bertakbiratul ihram maka tayammumnya adalah sah
saja dan shalatnya boleh diteruskan.
Murtad yakni berganti agama selain islam atau keluar dari agam islam.
Gambar Cara Mengerjakan Tayammum




Adab yang Perlu Diperhatikan Saat Buang Air
Adab yang Perlu Diperhatikan Saat Buang Air.
Islam merupakan agama yang mencintai kebersihan. Seorang muslim dituntut untuk selalu menjaga
kebersihan di manapun dan kapanpun ia berada. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah saat buang air.
Dari Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad SAW pernah berjalan melewati dua makam, lalu beliau bersabda,
"Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam
pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari kencing.
Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namiimah (mengadu domba)."
Karena perkara tidak membersihkan diri, seorang umat muslim bisa terkena siksa kubur. Salah satu
penghuni kubur itu semasa hidupnya tidak menjaga diri dari percikan atau kotorannya sendiri saat buang
air kecil.
Meski sederhana, namun menjaga diri atau menutup diri ketika buang air merupakan perkara yang berat
dan berujung pada dosa besar, karena pelakunya diancam dengan siksa di akhirat. Syaikh Abdul Aziz arRajihi
menjalaskan
bahwa
pendapat
paling
kuat
tentang
pengertia
dosa
berat
adalah
perbuatan
yang

pelakunya
diancam
dengan
api
neraka,
murka
Allah
SWT
di
akhirat,
atau
perbuatan
yang
mendapat

hukuman
had
di
dunia.
Dalam
HR
Ibnu
Majah
disebutkan,
"Mayoritas
siksa
kubur
itu
akibat
tidak

membersihkan
air
seni."

1. Adab pertama yakni hendaknya saat pergi ke tempat buang hajat menggunakan alas kaki, kecuali
ada halangan. Disunahkan pula untuk menggunakan kepala. Hal ini didasarkan atas apa yang
dilakukan Rasulullah SAW.
2. Adab kedua yakni tidak membawa aksesoris baik cincin, kalung, yang bertuliskan Allah SWT,
Rasulullah SAW, asmaul husna, maupun nama lain yang diagungkan dan nama malaikat. Kecuali
dikhawatirkan akan hilang atau rusak karena tidak ada yang menjaga saat di tempat umum, maka
diperbolehkan.
Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan untuk memuliakan nama-nama di atas dan mengamalkan
sunnah Nabi SAW. Ketika Nabi melakukan hajat, beliau selalu mencopot cincinnya yang
dipermukaannya terukir tulisan Muhammad, Allah, dan Rasul.
Disunnahkan ketika masuk ke dalam toilet menggunakan kaki kiri dan mendahulukan kaki kanan saat
keluar. Hal ini berkebalikan dari saat memasuki masjid atau tempat suci lainnya. At-Tirmidzi
meriwayatkan hadist dari Abu Hurairah, "Sesungguhnya seseorang yang masuk dengan kaki kanan ketika
buang hajat, dia akan diuji dengan kefakiran."
Tidak lupa saat masuk ke toilet, seorang umat disunahkan membaca doa, "Bismillah, Allahumma inni
a‟uudzubika minal khubtsi wal khabaaits." Dimakruhkan beristinja menggunakan tangan kanan. Hal ini
berdasarkan hadist dari Salman ra dalam HR Muslim, "Rasulullah SAW melarang kita beristinja
menggunakan tangan kanan."
Saat buang hajat, seorang umat tidak diperbolehkan menghadap atau membelakangi arah kiblat. Salman
dalam HR At-Tirmidzi no 16 menyebut, "Benar katamu, Rasulullah SAW telah melarang kami
menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil."
Dilarang buang air kecil atau besar di lubang tempat keluar-masuk binatang. Selain itu tidak
diperbolehkan membuang hajat di tanah yang padat dan di tempat dimana angin bertiup kencang agar
kotoran yang dikeluarkan tidak berbalik mengenai dirinya.
Tempat lain yang dilarang membuang hajat yakni di saluran air. Tempat berkumpul manusia seperti
tempat berteduh, jalan, di bawah pohon, di samping kuburan, dan dalam air yang tenang atau tidak
mengalir pun menjadi tempat yang dilarang untuk membuang air.
Berhubungan dengan dilarangnya buang air di tempat-tempat tersebut, maka perlu dipastikan tempat
buang air berada dalam keadaan tertutup. Dilarang bagi muslimah untuk memperlihatkan auratnya kepada
yang lain, kecuali sah-nya.
Adab berikutnya yaitu dilarang buang air kecil sambil berdiri jika tidak ada halangan. Hal ini hukumnya
makruh. Berbeda jika terdapat uzur atau halangan seperti sakit, maka hukum ini tidak makruh.
Seorang muslim tidak boleh duduk terlalu lama dan berbicara saat membuang hajat. Duduk terlalu lama
diketahui akan membahayakan lambung. Sementara berbicara saat buang air akan menyakiti para
malaikat.
Terakhir saat keluar dari tempat buang hajat, disunnahkan membaca doa. Adapun doanya yakni,
"ghufroonaka." Arti doa ini adalah, "aku memohon ampunan-Mu."


Macam-Macam Hadas dan Cara Membersihkannya


Setiap manusia pasti melakukan aktivitas dalam kesehariannya. Namun, ada beberapa situasi
yang membuat manusia berada dalam keadaan suci maupun tidak dalam keaadan yang suci.
Keaadaan yang tidak suci ini adalah yang disebut dengan hadas. Keadaan hadas ini membuat
manusia tidak diperbolehkan untuk melakukan ibadah seperti sholat, berpuasa, memegang AlQur‟an
dan
lain
sebagainya.
Lantas
bagaimana
cara
membersihkan
diri
dari
hadas
dan
apa
saja

macam-macam
hadas?

Apa Saja Macam-Macam Hadas?


Hadas terbagi menjadi dua yaitu hadas kecil dan hadas besar. Secara umum, ulama dan ahli ilmu
fiqh sudah menyepakati bahwa buang air kecil, buang air besar (BAB), kentut, mengeluarkan
mazi dan wadi yang dikeluarkan dalam keadaan sehat adalah termasuk hadas kecil. Selain itu,
tidur dengan pantat atau punggung yang tidak menempel di alas permukaan, gila atau hilang
akal, bersentuhan kulit dengan lawan jenis, menyentuh kemaluan adalah hal-hal yang
menyebabkan hadas kecil sehingga diwajibkan untuk bersuci kembali. Jika sedang dalam
keadaan hadas kecil, kita tidak dapat melakukan ibadah seperti mendirikan sholat, menyentuh
Al-Qur‟an, atau melakukan tawaf.


Sementara hadas besar adalah hadas yang berada pada seluruh tubuh manusia sehingga harus
disucikan seluruh tubuhnya dan dilarang untuk melakukan ibadah sebelum mandi wajib atau
mandi besar. Menurut para ulama dan ahli fiqh, hadas besar terdiri dari mengeluarkan mani
(dalam keadaan sadar maupun tidur atau mimpi basah), berhubungan badan, dalam keadaan haid
atau nifas. Tiga perkara ini adalah hadas besar yang jika terjadi tidak boleh melakukan perkara
seperti sholat, membaca Al-Qur‟an, Berpuasa, memasuki masjid, tawaf dan lainnya sebelum
bersuci.
Bagaimana Cara Membersihkannya?


“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu
tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah
mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu
bersyukur.” (Q.S. Al-Maidah : 6)
Untuk mensucikan tubuh dari hadas, ada beberapa cara untuk bersuci sesuai dengan perkaranya.
Jika buang air kecil, buang air besar, mengeluarkan mazi atau wadi dapat dilakukan dengan
membersihkan kemaluan atau lubang keluar kemudian berwudhu. Sementara jika melakukan
perkara yang menyebabkan hadas kecil dapat bersuci dengan berwudhu. Sementara jika ingin
bersuci dari hadas besar harus dilakukan dengan mandi wajib atau mandi besar. Wallahua‟lam.

Macam-Macam Najis
Najis adalah suatu kotoran, jika kotoran tersebut menempel pada pakaian atau tempat, maka
pakaian atau tempat tersebut tidak dapat digunakan untuk beribadah (semisal shalat) sebelum
kotoran tersebut disucikan dengan cara-cara tertentu sesuai dengan tingkatan najis tersebut.
(Ust.H. Faktur R, 34).
Allah Subhanahu wa Ta‟ala telah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mesucikan diri.” (Al-Baqarah: 222).
Najis adalah kotoran yang harus dibersihkan oleh orang muslim dan mengharuskannya untuk
mencuci segala sesuatu yang dikenainya. Allah berfirman :
“dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir (74):4).
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah (2) : 22).
Adapun yang berasal dari as-Sunnnh adalah beberapa hadist yang cukup banyak. Diantaranya :
“Barangsiapa berwudhu hendaklah ia meratakan air. Dan barangsiapa cebok,hendaklah
mengganjilkan siraman.” (Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam).
Macam-Macam Najis
Najis itu dapat dibagi 3 bagian :
1. Najis Mukhaffafah (ringan)
Najis Mukhaffafah adalah najis ringan yang berupa air kencing bayi laki-laki yang belu berumur
2 tahun dan belum pernah makan sesuatu kecuali air susu ibunya.
2. Najis Mughallazhah (berat)
Najis Mughallazhah adalah najis brerat yang berupa najis anjing dan babi dan keturunannya.
3. Najis Mutawassithah (sedang)
Najis Mutawassithah adalah najis yang selain dari dua najis tersebut diatas, seperti segala sesuatu
yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang, kecuali air mani, barang cair yang
memabukkan, susu hewan yang tidak halal dimakan, bangkai, juga tulang dan bulunta, kecuali
bangkai- bangakai manusia dan ikan serta belalang.
Najis Mutawassithah dibagi menjadi dua :
Najisainiyah ; adalah ajis yang berujud, yakni yang nampak dapat dilihat.
Najis hukmiyah ; adalah najis yang tidak kelihatan bendanya, seperti bekas kencing, atau arak
yang sudah kering dan sebagainya.
Benda-Benda Yang Termasuk Najis
Berikut ini terdapat beberapa benda-benda yang termasuk najis, terdiri atas:
 Bangkai binatang darat yang berdarah selain dari mayat manusia
Adapun bangkai binatang laut seperti ikan dan bangkai binatang darat yang tidak berdarah ketika
masih hidupnya seperti belalang serta mayat manusia, semuanya suci.
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” (Al-Maidah: 3).
Adapun bangkai ikan dan binatang darat yang tidak berdarah, begitu juga mayat manusia, tidak
masuk dalam arti bangkai yang umum dalam ayat tersebut karena ada keterangan lain. Bagian
bangkai, seperti daging, kulit, tulang, urat, bulu, dan lemaknya semuanya itu najis menurut
madzab syafi‟i. Menurut madzab Hanafi, yang najis hanya bagian-bagian yang mengandung
roh(bagian-bagian yang bernama) saja, seperti daging dan kulit.
Bagian-bagian yang tidak bernyawa, seperti buku, tulang, tanduk, dan bulu, semuanya itu suci.
Bagian-bagian yang tak bernyawa dari anjing dan babi tidak termasuk najis.
 Darah
Segala macam darah itu najis, selain hati dan limpa. Firman Allah Swt.
“Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, dan daging babi.” (Al-Maidah: 3).
Sabda Rasulullah Saw:
“Telah dihalalkan kita dua macam bangkai dan dua macam darah: ikan dan belalang, hati dan
limpa.” (Riwayat Ibnu Majah).
Dikecualikan juga darah yang tertinggal di dalam daging binatang yang sudah disembelih, begitu
juga darah ikan. Kedua macam darah ini suci atau dimaafkan, artinya diperbolehkan atau
dihalalkan.
 Nanah
Segala macam nanah itu najis, baik yang kental maupun yang cair, karena nanah itu merupakan
darah yang sudah busuk.
Segala benda cair yang keluar dari dua pintu
Semua itu najis selain dari mani, baik yang biasa seperti tinja, air kencing ataupun yang tidak
biasa, seperti mazi, baik dari hewan yang halal dimakan ataupun yang tidak halal dimakan.
Arak (setiap minuman keras yang memabukan)
“Sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan
panah adalah perbuatan keji. , termasuk perbuatan setan.”(Al-Maidah 90).


 Anjing dan Babi
Semua hewan suci, kecuali Anjing dan Babi.
Sabda Rasulullah Saw:
( )
“Cara mencuci bejana seseorang dari kamu apabila dijilat anjing, hendaklah dibasuh tujuh kali,
salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah.” (HR. Muslim).
Bagian badan binatang yang diambil dari tubuhnya selagi hidup.
Hukum bagian-bagian badan binatang yang diambil selagi hidup ialah seperti bangkainya.
Maksudnya, kalau bangkainya najis, maka yang dipotong itu juga najis, seperti babi dan
kambing. Kalau bangkainya suci, yang dipotong selagi hidupnya sewaktu hidupnya pun suci
pula, seperti yang diambil dari ikan hidup. Dikecualikan bulu hewan yang halal dimakan,
hukumnya suci.
 Kotoran dan Kencing Hewan Yang Haram Dimakan Dagingnya
Setiap binatang yang tidak boleh (haram) dimakan dagingnya menurut syari‟at islam seperti
keledai, maka semua yang keluar dari binatang-binatang tersebut adalah najis, baik itu kotoran
maupun kencingnya.
 Hewan Jalalah (Liar)
Jalalah adalah hewan liar yang memakan kotoran, baik kotoran unta, sapi, kamping, ayam, angsa,
dan lain-lainnya, sehingga hewan tersebut berubah baunya.
 Khamr
Khamr menurut jumhur ulama, dihukumi najis.
 Wadi
Wadi adalah cairan kental yang biasanya keluar setelah seseorang selesai dari buang air kecilnya
(kencing). Wadi ini dihukumi najis dan harus disucikan seperti halnya kencing, tetapi tidak wajib
mandi.
 Madzi
Madzi adalah cairan bening sedikit kental yang keluar dari saluran kencing ketika bercumbu atau
nafsu syahwat mulai terangsang. Terkadang tidak merasakan akan proses keluarnya. Hal itu
sama-sama dialami oleh laki-laki dan juga wanita, akan tetapi jumlahnya lebih banyak.
 Kencing dan Muntah Manusia
Menurut kesepakatan para ulama, keduanya adalah najis.
 Darah
Yang dimaksud dengan darah di sini adalah haid, pendarahan yang dialami oleh seseorang
wanita yang tengah hamil, nifas maupun darah yang mengalir, misalnya darah yang mengalir
dari hewan yang disembelih.
 Mani
Mengenai mani, terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama, yang mana sebagian dari
mereka menganggapnya najis. Yang jelas ia tetap suci.

 Bangkai
Yang dimaksud dengan bingkai di sini adalah setiap hewan yang mati tanpa melalui proses
penyembelihan yang disyari‟atkan oleh islam dan juga potongan tubuh dari hewan yang dipotong
atau terpotong dalam keadaan masih hidup. Pengecualian bangkai, diantaranya: Bangkai ikan
dan belalang, Bangkai yang tidak memiliki darah mengalir (semut, lebah), Tulang, tanduk dan
bulu bangkai, kesemuanya itu adalah suci.

Demikian ceramah agama yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua dan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dan
kurangnya mohon dimaafkan, yang benar datangnya dari Allah SWT Yang Maha Benar, dan
yang salah, khilaf, atau keliru itu datangnya dari saya pribadi sebagai manusia biasa yang tidak
pernah luput dari salah, khilaf dan dosa.
akhirul kalam wabillahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MTsN 5 Madiun Melaksanakan Vaksinasi Pertama

Madiun- Pelaksanaan Vaksinasi pertama siswa MTsN 5 Madiun berjalan tertib dan lancar. Kegiatan dilaksanakan Rabu, 29 September 2021. Jumlah peserta didik ada 624 siswa,50 siswa sudah di

02/10/2021 19:26 - Oleh Administrator - Dilihat 12 kali
Meroket Bersama Meraih Prestasi Pasca Pandemi Milad Ke-53 MTsN 5 Madiun

MTsN 5 Madiun Kabupaten Madiun-Serangkaian agenda milad ke-53 diadakan online competition dimulai Senin,18 Januari sampai dengan Jumat,29 Januari 2021.Jenis lomba diantaranya fashion sh

02/02/2021 14:51 - Oleh Administrator - Dilihat 104 kali
KEGIATAN PENANAMAN POHON DAN GOTONG ROYONG MEMBERSIHKAN LINGKUNGAN MTsN 5 MADIUN

Seluruh Keluarga besar MTsn 5 Madiun mengadakan penanaman pohon dan tanaman hias di lingkungan madrsah. Kegiatan ini melibatkan Kepala Madrasah, Dewan Guru, Staff Madrasah, petugas Kebe

01/02/2021 11:31 - Oleh Administrator - Dilihat 90 kali
Apel Dalam Rangka Memperingati Hari Amal Bhakti Kementerian Agama Republik Indonesia Ke 75 Tanggal 5 januari 2021

Assalamualaikum wr.wb Selasa, 5 Januari 2021 pukul 07.30 WIB tempat halaman MTsN 5 Madiun. Bapak/Ibu guru beserta staf  MTsN 5 Madiun mengadakan apel dalam rangka memperingati Har

05/01/2021 12:05 - Oleh Administrator - Dilihat 102 kali
MTsN 5 Madiun Gelar Simulasi PTM Guru Dan Siswa

Madiun-MTsN 5 Madiun mengadakan simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) untuk para guru dan siswa,dilaksanakan Selasa (22/12/2020).Yang disaksikan oleh ,Bapak Sekcam Kec,Mejayan,Bapak Da

23/12/2020 18:58 - Oleh Administrator - Dilihat 91 kali
Pemilu OSIM Periode 2020-2021

  (MTsN 5 Madiun) - Organisasi Siswa Intra Madrasah atau biasa disebut OSIM merupakan salah satu wadah kegiatan peserta didik berupa lembaga eksekutif dalam sebuah lembaga pendidik

08/11/2020 15:10 - Oleh Administrator - Dilihat 91 kali
"Screening" dan Pembagian Fe Tablet Tambah Darah Bagi Peserta Didik Kelas 7

(MTsN 5 Madiun) – Dalam rangka meningkatkan kesehatan peserta didik MTsN 5 Madiun bekerja sama dengan Puskesma Mejayan melaksanakan pemeriksaan dan memantau kesehatan siswa dalam

05/11/2020 14:25 - Oleh Administrator - Dilihat 72 kali
Gowes Bareng MTsN 5 Madiun

(MTsN 5 Madiun) - Kegiatan bersepeda atau gowes makin digandrungi semua kalangan.  Kegiatan olahraga ini memang mengasyikan, dan tentunya pasti bikin sehat. Kepala MTsN 5

31/10/2020 14:05 - Oleh Administrator - Dilihat 76 kali
MTsN 5 Madiun salurkan hewan kurban ke beberapa masjid

(MTsN 5 Madiun)---Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1441H. MTsN 5 Madiun menyalurkan bantuan hewan kurban berupa kambing di beberapa masjid sekitar madrasah. penyaluran hewa

30/07/2020 11:20 - Oleh Administrator - Dilihat 62 kali
Sample Post 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

07/05/2020 05:09 - Oleh Administrator - Dilihat 49 kali